Perjakaku Hilang Di Miss 'V' Tanteku

Namaku Rudi. Kisah ini bermula ketika aku berumur 18 tahun.

Pagi itu Tante Nur meneleponku dan memintaku untuk datang ke rumahnya. Dia mengeluh pipa air di dapurnya rusak. Karena aku sudah beberapa kali berhasil memperbaiki pipa2 air dirumahnya, maka dia memanggilku untuk memperbaiki pipa air yang rusak tersebut dirumahnya dan karena hari ini jadwalku sangat padat, maka aku bilang kalau aku akan kerumahnya setelah semua kegiatanku selesai.


Sore hari setelah semua kegiatan aku selesaikan, maka sesuai janjiku pada Tante Nur aku datang ke rumahnya. Begitu sampai di rumahnya, akupun langsung masuk kedalam rumah dan ternyata Tante Nur sudah berada di ruang tamu menunggu kedatanganku dengan mengenakan baju santai. Baju tersebut sangat pendek dan hanya menutupi 1/3 bagian paha mulus Tante Nur.

“Ayo Rud, aku tunjukin pipa yang rusak” kata Tante Nur sambil membalikkan badan dan segera melangkah ke dapur.

Aku mengikuti Tante Nur dari belakang. Mataku tak berkedip melihat penampilan Tante Nur itu. Dengan memakai baju yang sangat pendek dan ketat tersebut, membuat mataku dengan jelas bisa melihat mulusnya paha serta bentuk dan lekuk pantat Tante Nur yang bulat padat bergoyang ketika dia berjalan.

Begitu tiba di dapur, sebelum mulai memperbaiki pipa yang rusak, karena takut kotor dan basah, aku melepas celana panjang dan kemejaku sehingga aku tinggal mengenakan celana boxer dan kaos oblong.

Setelah aku selesai berganti pakaian, aku membungkuk untuk melihat pipa di bawah tempat cuci piring. Aku malihat ada air menetes dari sambungan pipa. Dengan posisi selonjor di lantai, aku masukkan badanku di bawah kolong tempat cuci piring tersebut dan mulai membetulkan sambungan yang rusak tersebut. Namun betapa terkejutnya aku saat aku melihat ke arah Tante Nur. Karena baju Tante Nur yang sangat pendek tersebut, maka dari posisiku tersebut aku dapat melihat langsung kearah selangkangan Tante Nur. Ternyata Tante Nur tidak memakai celana dalam sehingga aku bisa melihat langsung memek Tante Nur yang dipenuhi dengan bulu2 jembut yang cukup lebat. Sejenak aku terdiam sambil memandangi memek Tante Nur hinga aku dikejutkan oleh suara Tante Nur.

“Gimana Rud, apa perlu diganti sambungan pipanya?” tanya Tante Nur.
“Gak usah Tan, hanya perlu ditambah seal tape dan dikencangin saja juga beres” jawabku dengan muka memerah menahan malu karena ketahuan Tante Nur kalau aku sedang memandangi bagian selangkangannya.

Akupun kembali memperbaiki sambungan pipa yang rusak tersebut sambil sesekali kembali mataku melihat selangkangan Tante Nur yang jelas menampakkan bukit memeknya yang menggembung itu. Tiba2 aku merasakan sesuatu menggesek-gesek bagian tengah selangkanganku. Gesekan tersebut tepat mengenai biji pelirku. Saat aku melihat kebawah, aku melihat kaki Tente Nur yang menggesek gesek biji pelirku tersebut. Akupun merasakan nikmatnya gesekan kaki Tante Nur tersebut pada biji pelirku dan akupun seketika menghentikan aktifitasku yang sedang memperbaiki sambungan pipa yang rusak tersebut. Tante Nur terus melakukan hal tersebut hingga kurang lebih 1 menit lamanya. Karena rangsangan pada biji pelirku tersebut, kontolkupun mulai ngaceng dan keras. Namun disaat aku sedang merasakan nikmatnya gesekan tersebut, tiba2 Tante Nur menghentikan gerakan kakinya dan melangkah beranjak dari tempatnya semula. Saat gesekan itu berhenti, pikiranku menjadi tidak karuan. Aku berusaha menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin dengan harapan setelah selesai maka aku bisa menuntaskan nafsuku yang sempat terhenti tersebut dengan beronani di kamar mandi. Sebentar kemudian pekerjaanku selesai.

Alangkah terkejutnya aku saat aku keluar dari bawah bak cuci piring, aku melihat Tante Nur sudah dalam keadaan telanjang bulat. Bajunya sudah teronggok di lantai. Sambil duduk di atas meja dapur, Tante Nur menggosok-gosok memeknya dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya meremas-remas payudaranya yang besar. Tanpa berkedip aku melihat kearah memek Tante Nur yang menggembung bentuknya dan dikelilingi oleh bulu2 jembut yang cukup lebat tersebut.

“Apakah kamu menyukainya, Rud?” Dengan suara manja menggoda Tante Nur bertanya kepadaku. Aku tidak menjawab dan terus menatap kearah memeknya.
"Apa kamu gak ingin menyentuhnya, Rud? Kamu pasti akan menyukainya kalau sudah menyentuhnya" Ujar Tante Nur mengagetkanku.

Bagaikan orang yang kena hipnotis, perlahan aku mendekati Tante Nur. Ini adalah pertama kalinya aku melihat memek perempuan secara nyata dan dari jarak yang begitu dekat. Sebelumnya aku hanya melihat memek perempuan dari film2 bokep, tapi kini aku dapat melihatnya secara langsung. Semua itu semakin membuat nafsuku bergelora dan kontolkupun semakin tegak dan keras.

Belum hilang rasa keterkejutanku, tiba2 tangan Tente Nur meraih tanganku dan menuntunnya ke memeknya. Tante Nur membiarkan aku menyentuh memeknya dan tangankupun mulai meraba bukit memeknya. Bukit memek Tante Nur terasa empuk di tanganku. Lalu Tente Nur memegang tanganku yang lain dan mengarahkannya pada payudaranya. Luar biasa besar payudara Tante Nur dan kini aku meremas payudara tersebut dengan tanganku. Sungguh saat itu persaaanku semakin tidak karuan. Kedua tangan aku benar2 menyentuh dua bagian yang paling sensitif dari seorang perempuan yaitu memek dan payudara dan itu adalah milik Tante Nur.

Tente Nur memejamkan matanya menikmati rabaan tanganku pada memek dan payudaranya sambil menjilati kedua bibirnya dengan lidahnya sendiri. Tampaknya Tante Nur telah benar2 terangsang oleh nafsu birahinya. Tiba2 Tante Nur membuka matanya.

"Rud, Apakah kamu pernah ngentot dengan perempuan?" tanya Tante Nur dengan vulgarnya. Mendengar pertanyaan tersebut, jantungku semakin berdegup kencang.
"Belum pernah, Tan" jawabku dengan suara bergetar menahan gejolak nafsu birahiku yang semakin meninggi.
"Mau gak kamu ngentot dengan Tante?" tanya Tante Nur lagi.

Aku tertegun mendengar kalimat Tante Nur barusan. Baru sekali ini aku melihat lalu kemudian memegang dan meraba memek dan payudara perempuan, tiba2 kini Tante Nur ingin aku ngentot dengan dirinya.

"Jangan khawatir, Rudi. Tante akan mengajari kamu bagaimana memuaskan perempuan dengan kontolmu itu dan kamu akan merasakan bagaimana nikmatnya ngentot dengan perempuan” kata Tante Nur melihat kebingunganku tersebut, sambill memasukkan tangannya kedalam celana boxerku dan mengusap-usap batang kontolku yang sudah ngaceng dari tadi.

Tante Nur bangkit dari duduknya dan menyuruhku untuk ganti duduk di atas meja dapur. Dengan cepat Tante Nur menurunkan celana boxerku berserta dengan cdnya sehingga mencuatlah batang kontolku yang besar dan panjang tersebut.

“Wow... gila...!!!! Besar banget kontolmu, Rud. Jauh lebih besar dibanding ****** Pamanmu. Udah gitu panjang lagi.” teriak Tente Nur begitu melihat batang kontolku sambil tangannya membelai lembut batang kontolku yang panjang dan besar tersebut sehingga kontolku semakin keras dan berdenyut-denyut. Lalu dengan penuh nafsu Tante Nur menjilati batang kontolku.

“Sekarang Tante ingin merasakan kontolmu di mulut Tante” kata Tante Nur sambil membuka mulutnya dan memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Mulut Tante Nur hanya dapat menampung setengah dari keseluruhan panjang batang kontolku. Slurp... slurp... slurp... dengan penuh nafsu Tante Nur mengulum batang kontolku dan menjilati kepala kontolku di dalam mulutnya.

“Aaaahhhh... Taaaaaannnn... ssssshhhh.... ooooohhhh...” aku mengerangan merasakan kenikmatan yang luar biasa akibat kuluman Tante Nur pada batang kontolku.

Aku memejamkan mata menikmati untuk pertama kalinya batang kontolku diisap oleh perempuan. Selama ini saat melihat adegan perempuan yang sedang ngisep ****** lelaki dalam film bokep, aku selalu membayangkan betapa nikmat rasanya. Kini akupun dapat merasakan kenikmatan itu secara langsung dari Tante Nur.

Tante Nur terus menghisap-hisap kontolku dengan rakusnya. Mulutnya penuh dengan kontolku dan menghisapnya seperti sedang menghisap permen lolypop. Begitu nikmatnya, aku hampir tidak bisa membuka mataku. Tente Nur mengeluarkan kontolku dari mulutnya. Dikocoknya dengan lembut kontolku yang basah oleh ludahnya beberapa kali kemudian dia isap lagi kontolku.

Aku terangsang hebat, aku merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari ujung kepala kontolku.

“Aduh Taaaaannn... aku nggak tahaaaan... enak banget rasanya“ erangku.
“Kalau mau keluar, keluarin aja Rud. Jangan ditahan-tahan“ kata Tante Nur sambil kembali mengulum dan mengisap kepala kontolku sementara tangannya mengocok lembut batang kontolku sehingga dalam waktu singat aku langsung ejakulasi.

“Aaaaaaaahhhhh... akuuuuuu... keluuuuuaaaarrrr...!!!” teriakku.
Croooottt... croooottt... croootttt... spermaku nyemprot banyak sekali di dalam mulut Tante Nur.

Mmmmhhh... slurp... mmmmhhh... slurp... slurp... mulut Tane Nur penuh dengan cairan spermaku kemudian dia telan semua sperma yang aku semprotkan. Sedangkan sisa2 sperma yang meleleh di batang kontolku dia jilati sampai bersih.

“Rud spermamu banyak sekali. Udah lama nih kelihatannya nggak dikeluarin ya? Baunya wangi. Sekarang Tante baru percaya kalau kontolmu memang belum pernah dimasukin kedalam memek perempuan” kata Tante Nur, “Baru dimasukin kedalam mulut saja sudah meler...” ledeknya.

Kemudian Tante Nur berdiri lalu duduk di meja dapur tepat disebelahku. Tente Nur melebarkan kedua kakinya sehingga bibir memeknya tampak merekah. Dia mendorong tubuhku turun dari meja dan menarik kepalaku serta menuntunnya ke arah memeknya. Rupanya Tante Nur ingin agar aku gantian menjilati memeknya. Tante Nur telah benar2 terbakar oleh gairah birahinya . Gairah seksual meledak untuk dipuaskan. Dan Tante menginginkannya dariku.

“Oooohhh... Rud... jilati memek Tante... Rud...!!!” perintah Tante Nur agar aku segera menjilati memeknya sambil memegang belakang kepalaku sehingga kini mulutku menempel di bibir memeknya.

Aku menjulurkan lidahku ke memek Tante Nur dan mulai menjilati memeknya. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, aku mencium bau memek perempuan dan merasakan asinnya lendir yang keluar dari memek perempuan. Tente Nur semakin melebarkan kangkangan kedua kakinya sehingga mulut dan lidahku semakin mudah mengakses daerah memeknya.

"Ooohhh... Rudi... Terus isap memek Tante, Ruuuuuddd... Tante ingin kamu puasin Tante hari ini...!!! Sssshhh... aaahhh... ya... iya... yang itu sayang... Ooooohhh... isap itil Tante yang kuat... Ooooohhh... terus isap sayang... Ssssshhhh... Aaaaahhhh..." Tente Nur mengerang saat lidah aku menjelajahi memeknya dan menjilati itilnya.

Tante Nur menekan kepalaku sehingga mulutku menempel lebih erat di memek nya. Erangan Tante Nur semakin keras dan sekarang Tante mulai menggerak-gerakan pantatnya mengikuti jilatan lidahku pada celah memeknya. Aku semakin bernafsu menjilati celah memek Tante Nur yang semakin basah dan sesekali mengisap itil Tante Nur yang semakin bengkak.

Tante Nur melihat kontolku yang besar dan panjang itu semakin tegang dan keras. Tante Nur tahu bahwa aku sudah benar2 terangsang dan siap untuk menyetubuhinya. Tante menarik kepalaku menjauh dari memeknya lalu dia berdiri. Sambil mengandeng tanganku, Tante Nur mengajakku ke kamarnya. Setibanya di kamar, Tante Nur menarikku keatas ranjang. Tante telentang dengan kedua kakinya direntangkan lebar2 dan aku berada di atasnya.

Tangan Tante Nur segera meraih kontolku dan dikocoknya pelan-pelan. Kemudian Tante Nur memegang kontolku dan membimbing ke arah memeknya. Dia mulai menggosok-gosokan kepala kontolku di bibir memeknya. Bibir memek Tante Nur terasa basah oleh cairan lengket yang keluar dari dalam memeknya. Tante Nur semakin bernafsu dan ingin aku segera menyarangkan kontolku ke dalam memeknya. Diarahkannya kontolku ke gerbang liang memeknya

"Ayo sayang... masukkan kontolmu di memek Tante. Buat Tante puas dengan ****** supermu itu" kata Tante sambil menatapku.

Berbekal pengalaman dari melihat film bokep, pelan-pelan aku tekan kontolku membelah bibir memek Tante Nur hingga akhirnya batang kontolku tenggelam seluruhnya di dalam liang memek Tante Nur. Akupun merasakan sensasi yang luar biasa saat batang kontolku berada di dalam liang memek Tante Nur yang hangat. Rasanya nikmat sekali. Tante Nur memelukku erat sekali.

"Oooohhh... Rud... kontolmu enak banget Rud... ngganjel banget... rasanya... ssshhhhh... oooohhhh... terus sayang enak banget... terus entoti memekku... Buat aku puas dengan ****** supermu... Aaaaaahhhh... rasanya memekku penuh banget terisi sama kontolmu... gesekan kontolmu terasa banget di dalam liang memekku... Oooohhhh... Ssssshhhh... aahhhhhhh...!!!" Tente Nur mulai merintih, membuatku semakin bersemangat memompa kontolku semakin cepat. Tante Nur mengangkat kedua kakinya dan dilingkarkan ke pinggangku. Pada posisi ini kontolku semakin dalam masuk kedalam liang memeknya karena tekanan kaki Tante Nur yang ikut menekan saat aku mengenjotkan batang kontolku kedalam liang memeknya.

Aku mulai menggerakkan pantatku naik turun sehingga kontolku keluar masuk liang memek Tante Nur membuat Tante Nur terus mengerang merasakan nikmatnya enjotan kontolku tersebut.

"Apakah kamu merasa nikmat sayang? Gimana rasanya memekku? Apakah kamu menyukainya? " tanya Tante Nur sambil menatapku.
"Ooooohhhh... Tante... memek Tante nikmat bangeeeettt... Rudi ingin terus ngentoti memek Tante yang nikmat ini... Aaaahhhh... Sssshhhh... Oooohhh..." rintihku merasakan nikmatnya liang memek Tante Nur yang berkedut-kedut membuat kontolku serasa diremas-remas sambil terus mengenjotkan kontolku keluar masuk liang memeknya.

Tente Nur memberi tanda agar aku menghentikan enjotanku. Dia memintaku untuk mencabut kontolku dari memeknya. Dengan masih diliputi kebingungan akupun mencabut kontolku. Tante Nur bangkit lalu nungging.

"Ayo sayang... entoti memek Tante dari belakang..." pinta Tante Nur

Pantat Tante Nur yang montok dan padat terlihat sangat menggemaskan. Diantara pantatnya yang montok itu, memeknya tampak merekah merangsang. Lalu Tante Nur menggenggam batang kontolku dan membimbingnya hingga kepala kontolku tepat menempel di permukaan liang memeknya.

“Sekarang... dorong kontolmu sayang...” kata Tante Nur.

Perlahan aku tekan pantatku. Bless... Blesss... Kontolku masuk ke liang memek Tante Nur. Kemudian aku mulai memompa kontolku di liang memek Tante Nur. Ternyata dalam posisi ini, liang memek Tante Nur terasa semakin sempit sehingga jepitannya terasa semakin erat. Dan gesekan kontolku dengan dinding didalam liang memek Tante Nur pun semakin terasa. Rasanya sungguh sangat nikmat.

“Ooooohhhh... Taaaaaannn... memek Tante makin nikmaaaatttt... ssssshhhh... ooooohhhh... enak banget memek Tante...” erangku. Aku terus mengenjotkan kontolku keluar masuk liang memek Tante Nur sambil meremas pantatnya. Pemandangan pantat Tante Nur yang bergetar setiap kali beradu dengan pangkal kontolku membuatku makin bernafsu. Aku semakin mempercepat pompaan batang kontolku di dalam memek Tante Nur yang becek sehingga menimbulkan bunyi crop... crop... crop.

“Sssssshhhh... sayang... Kapanpun kamu mau, akan saya berikan memekku untukmu... sayang... ssssssshhhh... Terus sodok yang kuat... Aaaaahhhhh... nikmat banget kontolmu sayang...” kata Tante Nur sambil menoleh ke arahku, sementara pantatnya digoyang dan diputar-putar mengimbangi pompaan kontolku.

“Remass... Remass payudara Tante, Rud...” desah Tante Nur sambil meremas susunya sendiri. Aku pun segera menuruti kemauannya. Sambil memompa kontolku, tanganku segera memegang, meremas payudara dan memainkan putingnya bergantian.

“Ooooohhh... sssshhhhh... aaaahhhh... nikmaaatt... Tante gak kuat... Tante mau keluaaaarrr... Ssssshhhh... Ooooohhhh...” jerit lirih Tante Nur sambil memegang tanganku yang sedang meremas-remas payudaranya, pantatnya terus bergoyang-goyang dan kedutan otot2 liang memeknya semakin kuat.

“Oooohh... Enak sekali, Taaaannn... Akuuuu... mau keluuuuaaarrr...” kataku sambil mempercepat gerakan kontolku karena sudah mulai terasa adanya tanda2 aku akan mendapatkan ejakulasiku seiring rasa nikmat yang aku rasakan.

“Keluarkan saja di dalam memekku, sayang...” kata Tante Nur sambil mempercepat goyangan pantatnya. Empotan liang memeknya semakin kuat meremas batang kontolku yang berada di dalam liang memeknya sehingga semakin nikmat terasa oleh kontolku.

Kupercepat enjotan kontolku keluar masuk memek Tante Nur sambil terus meremas payudaranya, lalu tak lama kemudian kudesakkan kontolku dalam2 ke memeknya.

“Taaaaannnnn... Rudi keluaaaar... Aaaaaahhhh...!!!” teriakku.

Crooooot... croooot... crooot... spermaku menyembur sangat banyak di dalam memek Tante Nur seiring rasa nikmat yang kurasakan. Kontolku berkedut-kedut di dalam liang memek Tante Nur sampai semburan spermaku berhenti.

“Oooohhhh... Ssssshhhh... sayaaaaannng... akuuuu... jugaaaa... keluuuuaaaarrr... ssssshhhhh... aaaaaahhhhh...!!!” teriak Tante Nur. Tubuhnya kejang2 akibat orgasmenya yang luar biasa nikmatnya. Ternyata disaat aku menyemprotkan spermaku, Tante Nur juga mencapai orgasmenya. Seeeeer... seeeer... seeeeeer... cairan orgasmenya menyiram hangat dan membasahi batang kontolku. Bagitu banyaknya cairan yang terkumpul didalam liang memek Tante Nur hingga sebagian meleleh keluar dari memeknya.

Setelah memberikan waktu beberapa menit bagi Tante Nur untuk menikmati orgasmenya, kemudian aku mencabut kontolku dan akhirnya aku merebahkan diri di samping tubuh molek Tante Nur. Begitu kontolku lepas dari memeknya, Tante Nur langsung menggulingkan tubuhnya disampingku dan memelukku.

“Terima kasih sayang... kontolmu benar2 luar biasa... Tante puas banget... Belum pernah Tante merasakan kenikmatan orgasme seperti barusan yang Tante alami... Muuaah...” bisik Tante Nur sambil mencium lembut keningku. Sementara tangannya terus meraba batang kontolku yang mulai lemas.

“Sama2... Tante juga hebat, memeknya sangat nikmat...” kataku balas memuji

Tante Nur turun dari tempat tidur, lalu terdengar bunyi kecipak-kecipak air di kamar mandi, rupanya Tante Nur sedang membersihkan memeknya yang berlepotan dengan spermaku yang bercampur dengan cairan orgasmenya. Selesai dari kamar mandi, Tante Nur menghampiriku lagi dengan tubuh dibelit handuk.

“Gimana? Enak kan rasanya ngentot dengan perempuan?” tanya Tante Nur sambil duduk di sampingku.
“Enak sekali, Tan. Terima kasih. Tante telah mengajari aku nikmatnya ngentot memek perempuan. Selama ini aku hanya merasakan kenikmatan ejakulasi lewat onani, tapi kini aku dapat merasakan nikmatnya ejakulasi di memek Tante...” sahutku sambil tersenyum, “Tapi kalau Paman pulang, aku susah dapetin memek Tante...” kataku.
“Tenang Rud. Kapanpun Rudi pingin memek Tante, akan Tante berikan... tapi harus hati-hati, Rud. Di depan pamanmu jangan memperlihatkan sikap lain padaku. Seperti biasa saja. Pokoknya harus serapi mungkin” kata Tante Nur.

Aku cuma mengangguk, sambil memperhatikan wajah Tante Nur. Sorot pandangannya memang jadi lain dari biasanya. Seperti mengandung arti yang mendalam. Senyumnya pun jadi lain. Mungkin itulah senyum seorang wanita yang telah mencapai kepuasan seksual.

“Kenapa udah mau pakai celana lagi? Emang gak mau lagi?” kata Tante Nur dengan nada agak centil sambil memegang tanganku saat aku hendak mengenakan cdku.
“Mau, tapi aku lapar, Tan. Kita makan dulu gimana?” ajakku
“Kalau perut penuh, nanti bisa sembelit,” Tante Nur memelukku dengan hangatnya, “Mending kita bikin ronde kedua dulu yuk. Nanti kalau udahan, baru kita makan malam. Tante yakin kamu pasti masih kuat” katanya.

Aku mengangguk sambil senyum. Cd tak jadi kupakai, lalu kulemparkan begitu saja ke lantai. Sementara itu Tante Nur pun membuka lilitan handuknya, sehingga tubuhnya bugil lagi di depan mataku. Sejenak kuamati tubuh Tante Nur yang mulus sekali. Payudaranya montok payudara. Kulit Tante Nur mulus dan bersih. Tidak ada noda setitik pun di tubuhnya. Hebat juga pamanku bisa mendapatkan wanita secantik dan semulus ini. Padahal saat itu usia pamanku sudah 50 tahun, sementara Tante Nur 20 tahun lebih muda darinya.

Tante Nur langsung menelentang, seperti mengharapkan terkamanku. Dan aku memang menerkamnya. Meremas payudaranya yang masih kencang dan bahkan mengemut putingnya seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Tante Nur tersenyum-senyum sambil mengelus rambutku dengan lembut.

Batang kontolku pun mulai menegang lagi. Tante Nur tahu itu, karena tangannya terus-terusan memegang batang kontolku dan terkadang meremasnya dengan lembut.

“Ayo... masukkan lagi kontolmu Rud...” pinta Tante Nur sambil meraih batang kontolku dan diarahkan tepat di celah memeknya yang sudah basah itu. Tante Nur lalu memberi isyarat agar aku mendorong batang kontolku. Kuikuti isyaratnya itu. Kudorong batang kontolku sekuat mungkin.

“Ouw... Oooh... sedikit-sedikit, Rud. Jangan disekaliin... sakit... ****** kamu gede sekali sih...” teriak Tante Nur sambil meringis.

Aku cabut kontolku dari liang memek Tante Nur lalu aku gesek2an kepala kontolku ke itil Tante Nur beberapa kali hingga memeknya semakin basah dan terasa licin.

“Ooooohhh... nah... gitu... sayang... iya... gesek2 sayang... iya... ooooohhhh....” desah Tante Nur merasakan nikmatnya gesekan kepala kontolku di itilnya yang semakin membengkak itu.

Kemudian aku selipkan kepala kontolku di belahan memek Tante Nur dan aku tekan perlahan-lahan batang kontolku hingga amblas masuk kedalam liang memek Tante Nur.

“Aaaaaahhhh... sayaaaangg... enak sayaaaaang...” erang Tante Nur merasakan nikmatnya gesekan batang kontolku pada dinding liang memeknya.
“Ngentot denganku sama ngentot dengan paman enakan mana Tan?” bisikku sambil terus mengenjotkan batang kontolku keluar masuk liang memek Tante Nur.
“Jauh sayang. Ngentot dengan kamu jauh lebih enak... soalnya kontolmu keras sekali... panjang dan gede banget... aaaaaahhh... bisa2 aku jadi ketagihan ****** kamu Rud...” jawab Tante Nur.

Kemudian bibir kami saling lumat.

“Ruuuuuddd.... ooooooh... enak sekali sayang... sssssshhhh... ooooohhh... kayaknya aku sudah mau keluaaaaar...” terdengar lagi desahan-desahan histeris Tante Nur, ketika bibirnya lepas dari lumatanku.

Sulit melukiskannya dengan kata-kata, betapa nikmatnya saat batang kontolku sudah mulai mengenjot-enjot dalam jepitan liang memek Tante Nur yang cantik dan mulus itu. Kedutan2 memek Tante Nur semakin sering terasa. Liang memek Tante Nur serasa memijit-mijit batang kontolku sehingga membuat akupun mulai merasakan kalau sebentar lagi spermaku juga akan keluar.

“Ssssshhhh... aaaaaahhhhh... Tanteeeeee... akkkuuu... jugaaaa.... mau keluuuuaaaarrrr...” aku mengerang.
“Enjotan yang cepat sayang... ayo sayang... kita bareng2 keluar... aaaaaahhh... sssssshhhh... enak sekali sayang...” erang Tante Nur. Kuikuti keinginan Tante Nur. Kupercepat gerakan pantatku maju mundur dan enjotan batang kontolku keluar masuk liang memek Tante Nur.

“Aaaaaahhhh... Taaaaaannnn... akuuuuuu... keluuuuuaaaarrr...!!!” teriakku. Kutancap batang kontolku sekuat mungkin, sampai terbenam sepenuhnya di dalam liang memek Tante Nur. Aku pun mendekap tubuh Tante Nur sekencang mungkin. Crooooottt... croooottt... croooottt... kontolku menyemprot-nyemprotkan spermaku di dalam liang memek Tante Nur.

“Oooooohhhh... Ruuuudiiii... akuuuuu... juuugaaa... keluuuuaaaarrr... aaaaahhhhh...!!!” jerit Tante Nur. Dia mencapai orgasmenya. Tubuhnya mengejang sambil mendekapku erat sekali. Seeeeerrrr... seeeeerrr... seeeerrr... semburan cairan orgasmenya menyiram hangat batang kontolku.

Kami saling berdekapan dengan erat, kemudian kami terkapar di atas tempat tidur dengan kepuasan yang tiada taranya.

Tante Nur kemudian bercerita mengenai kehidupan seksualnya dengan Paman. Sudah hampir satu tahun ini dia tidak merasakan nikmatnya orgasme dari persetubuhannya dengan Paman. Akibat penyakit gula yang dideritanya, Paman tidak dapat lagi memberikan kepuasan seksual kepadanya.

“Ngentot dengan Pamanmu sebulan 2 kali sudah cukup bagus, karena seringnya cuma sekali sebulan. ****** Pamanmu kalau berdiri nggak bisa keras dan baru sebentar main kontolnya sudah ejakulasi” kata Tante Nur.

“Makanya saat melihat tonjolan kontolmu yang besar dari balik celana boxermu tadi, nafsuku langsung bangkit. Dan ternyata kontolmu memang sangat gede dan panjang, Rud. Memekku seperti mau jebol rasanya. Dan luar biasa... belum pernah aku merasakan bersetubuh yang senikmat ini...” bisiknya lirih sambil menikmati sisa2 orgasmenya.

Aku tersenyum dengan perasaan bangga. Kemudian mengikuti langkah Tante Nur ke dalam kamar mandi. Kami sama2 mencuci kemaluan kami. Keluar dari kamar mandi, Tante Nur menutup tubuhnya dengan kimono tanpa mengenahan BH dan CD. Begitu pula denganku yang mengenakan celana boxer dan tanpa memakai CD. Kemudian kami sama-sama melangkah ke ruang makan.

“Mau dibikinin nasi goreng?” tanya Tante Nur sambil melingkarkan lengannya di leherku, dengan sikap yang mesra sekali.
“Boleh, kalau Tante Nur gak capek” sahutku sambil tersenyum.
Tante Nur mencium bibirku dengan mesra, membuat hatiku berdenyut. Karena malam ini sangat lain dari biasanya.

“Kuat berapa kali lagi malam ini?” tanya Tante Nur dengan lengan tetap melingkari leherku. Dengan tatapan yang menggoda.
“Nggak tau Tan. Kan aku juga baru pertama kali ngentot dengan dengan perempuan. Emang biasanya kalau cowok sebaya aku kuat berapa kali?” tanyaku
“Empat atau lima kali juga bisa. Tapi Tante Nur pasti kepayahan. Tante Nur kan bukan remaja lagi” jawab Tante Nur sambil melepaskan rangkulannya dan melangkah ke dapur.

Sebentar kemudian Tante Nur sudah menghidangkan nasi goreng untukku. Ada 2 sendok dan 2 garpu dalam satu piring dan nasi gorengnya pun banyak.

“Mau sepiring berdua, sayang?” Tante Nur mengecup pipiku. Aneh, ada getaran khusus di hatiku. Senang rasanya diperlakukan mesra seperti itu oleh Tanteku.
Layaknya sepasang kekasih, kami lalu makan di piring yang sama. Terkadang saling pandang dan tersenyum.

“Malam ini aku tidur disini ya Tan?” pintaku setelah nasi goreng habis dilahap oleh kami berdua.
“Dengan senang hati,” jawab Tante Nur, “Nanti biar aku kasih tahu mamamu kalau kamu malam ini nginap disini” lanjutnya.

Selesai makan nasi goreng, untuk pertama kalinya aku tidur bersama Tante Nur. Tentu bukan cuma tidur. Kami lakukan lagi persetubuhan yang ketiga kalinya. Yang ketiga ini lebih edan-edanan. Kami bergulingan, saling remas, saling lumat dan kembali mengatur supaya mencapai titik kepuasan dalam waktu berbarengan. Ketika batang kontolku sedang menyemprot-nyemprotkan spermaku di dalam liang memek Tante Nur, terasa benar liang memek itu pun berkedut-kedut, sebagai pertanda bahwa Tante Nur pun sedang merasakan nikmatnya orgasme.

Kami sama-sama terkapar dalam kepuasan. Lalu kami tertidur sambil saling berpelukan dalam keadaan sama-sama telanjang bulat. Begitu nyenyaknya aku tidur, sehingga tak peduli lagi pada tubuhku yang tidak ditutupi sehelai benang pun. Bahkan selimut pun masih terlipat dengan rapi, tidak kami pakai untuk menyelimuti tubuh bugil kami.

Tapi pagi-pagi sekali, ketika hari masih gelap, aku merasakan sesuatu yang lain pada batang kontolku. Ada elusan yang luar biasa enaknya, sehingga aku membuka mataku perlahan. Ternyata Tante Nur sedang menyelomoti batang kontolku.

Aku terdiam dan berpura-pura tetap tidur. Tapi batang kontolku mulai menegang lagi. Ah, gila... permainan bibir dan lidah Tante Nur terasa begitu enaknya, sehingga nafsu birahiku bergejolak lagi dengan hebatnya.

Kemudian Tante Nur berjongkok dengan kakinya berada di kanan kiri pinggulku. Rupanya Tante Nur sedang berusaha memasukkan batang kontolku ke dalam memeknya.
Blesss.... batang kontolku terbenam lagi di dalam liang memek Tante Nur, disusul dengan penjatuhan dada Tante Nur ke atas dadaku, sehingga aku pun membuka mataku.

Tante Nur menggerak-gerakkan pantatnya naik turun, sehingga batang kontolku jadi keluar masuk di dalam mliang memek Tante Nur yang terasa hangat ini. Dinginnya udara pagi tak terasa lagi. Kehangatan dan kenikmatan membuatku mulai berkeringat. Dan diam-diam aku teringat sebuah artikel yang mengatakan bahwa bersetubuh menjelang pagi sangat enak rasanya. Kini aku mengalaminya dan merasakan nikmatnya.

Pada saat tubuh sedang segar-segarnya, setelah semalaman istirahat, aku mendapat “santapan pagi” yang sungguh lezat rasanya.
Tante Nur tambah merangsangku dengan kata-katanya, “Enak ya ngentot subuh-subuh gini?” desisnya sambil mempergila ayunan pinggulnya. Sehingga batang kontolku seperti dibesot-besot ke atas ke bawah ke kanan ke kiri.

“Iya Tan,” sahutku mengimbangi, “ternyata memek Tante Nur enak sekali...”
“Kontol kamu juga enak, sayang. Pamanmu kalah jauh... dudududuuuuuuhhhhh... enak sekali sayang... aaaahhhh... aku bisa jadi tambah sayang sama kamu Rud...” kata Tante Nur.
“I... iii... iya Tan... mmmmmmh... enak Tan... ooooh... ssshhhhh... aaahhhh...” erangku.

Tiba-tiba Tante Nur menghentikan ayunan pinggulnya dan memeluk tubuhku erat2.

“Ruuuuuudddd... akuuuuuu... keluuuuuaaaarrr...!!! ssssshhhhh... aaaaaahhhh... nikmaaaaaatttt... banget Ruuuuuddddd...!!!” jerit Tante Nur mendapatkan orgasmenya yang pertama di pagi itu.
Seeeeerrr... seeeerrrr... seeeerrrr... cairan orgasmenya menyembur banyak sekali menyiram hangat batang kontolku yang masih terbenam di liang memeknya dan liang memeknyapun berkedut-kedut kuat sekali.

Setelah beristirahat sejenak, menyadari batang kontolku yang masih keras di liang memeknya, Tante Nur mengeluarkan kontolku dari dalam memeknya.

“Ganti posisi, Rud. Kamu yang di atas” pinta Tante Nur sambil merebahkan tubuhnya di sampingku. Namun kali ini Tante Nur terlentang sambil mengganjal pinggulnya dengan bantal. Lalu kedua kakinya direntangkan lebar-lebar. Sehingga kemaluan Tante Nur tampak merekah, tampak kemerahan bagian dalamnya.

“Supaya apa diganjal bantal gitu Tan?” tanyaku polos.
“Biar ****** kamu bisa masuk semuanya” jelas Tante Nur lalu tersenyum sambil mengelus memeknya sendiri.
“Oya? tanyaku dengan keheranan.
“Iya sayang... cobalah... pasti beda rasanya” jawab Tante Nur.

Aku tersenyum, lalu mengikuti petunjuk Tante Nur, memasukkan batang kontolku ke dalam memeknya yang sudah sangat basah itu. Kemudian aku menahan tubuhku dengan kedua tangan tertekan di kanan kiri Tante Nur, seperti tukang becak yang sedang memegang stang becaknya.

Gila, Tante Nur benar. Dengan cara seperti itu sensasinya sungguh luar biasa. Rasanya batang kontolku amblas sepenuhnya ke dalam liang memek Tante Nur yang mencuat ke atas itu.

“Duuuuuuuh... sudah masuk, Rud...??!!! Iya... ooooohhhh... kontolmu emang gede sekali, Rud. Sampai seret begini rasanya... ooooohhh... enak bangeeeetttt... ssssshhhh... ooooohhhh...” bisik Tante Nur terengah-engah sambil mendekapku erat2.

“Aaaahhh... nikmat sekali Taaaaaan... lebih mantap rasanya...” cetusku sambil mengayun batang kontolku.

Tante Nur pun mengangkat kakinya sampai melewati bahuku dan menggantung kakinya di bahuku. Dengan begitu aku semakin leluasa menggerakan batang kontolku dan membenamkannya dalam2 di liang memek Tante Nur.
Sampai fajar menyingsing, aku masih mengayun batang kontolku. Keringat pun mulai bercucuran, berjatuhan ke perut dan dada Tante Nur. Ooooohhh... sungguh pagi yang indah sekali.

Aku terus mengenjotkan batang kontolku, sambil mempermainkan payudara Tante Nur yang montok dan masih sangat kencang itu. Tante Nur menikmati semuanya dengan ganasnya. Pinggulnya bergoyang-goyang erotis sekali, meliuk-liuk dengan gerakan seperti angka 8, membuat batang kontolku seperti dibesot-besot dengan nikmatnya di dalam liang memeknya. Aku pun terpejam-pejam saking enaknya.

Pada satu saat Tante Nur merengkuh leherku, kemudian menciumi bibirku, bahkan lalu melumatnya dengan penuh gairah. Aku pun tak tinggal diam. Kulumat juga bibir dan lidah Tante Nur yang terasa hangat ini. Sementara gerakan batang kontolku semakin cepat bergerak maju mundur dan keluar masuk di dalam jepitan liang memek Tante Nur. Sehingga gak lama kemudian, tubuh Tante Nur kembali mengejang sambil memeluk erat tubuhku.

“Aaaaaaahhhhhh... akkkuuuuu... keluuuuaaaarrrr... laaaaagiii... Ruuuuudddd... sssssshhhhhhh.... ooooohhhh... enaaaaaakkkkk... Ruuuuuuddddd.... sssssshhhhh... aaaaaaahhhhh.....!!!” teriak Tante Nur mendapatkan orgasmenya yang kedua.
Seeeeerrr... seeeerrrr... seeeerrrr... cairan orgasmenya kembali menyiram batang kontolku. Liang memeknyapun berkedut-kedut kuat sekali lebih kuat dari yang pertama tadi.

Aku merasa bangga, karena dalam senggama di pagi ini aku berhasil membuat Tante Nur dua kali orgasme. Aku memang jadi tangguh sekali. Karena dalam semalaman sampai pagi ini aku telah bersetubuh empat kali dengan Tante Nur. Tapi aku kasihan melihat Tante Nur yang seperti sudah kepayahan disetubuhi olehku. Maka sambil menikmati empotan memek Tante Nur yang luar biasa nikmatnya itu, aku berkonsentrasi agar cepat ejakulasi. Akhirnya dengan sekali hentakan, aku membenamkan batang kontolku sedalam mungkin, sampai menyentuh dasar liang memek Tante Nur.

Croooottt... crooottt... croooottt... bersemburanlah spermaku dari kontolku, memancar-mancar di dalam liang memek Tante Nur.

“Ssssssshhhhh... aaaaaaahhhh... Tanteeeeeeee... akuuuuu... keluuuuaaaarrr...!!! Nikmaaaaattt... sekaaalliii... Taaaaannn...!!!” aku mengerang merasakan nikmatnya ejakulasiku. Aku pun lalu ambruk ke dalam dekapan Tante Nur.
“Aduuh... gila kamu kuat banget, sayang...” kata Tante Nur sambil mencium pipiku.
“Tadi sebenarnya masih bisa bertahan, tapi kasihan Tante Nur sudah ngos-ngosan gitu” kataku sambil mempermainkan payudara Tante Nur yang masih dibasahi keringat. Aku diam dan seluruh badanku terasa lemas.

“Ayo Rud kita mandi dulu biar segar” Tante Nur mengajakku mandi. ajak
Aku memang berkeinginan mandi, segera kusambut tawarannya sambil menggoda.
“Tante, aku dimandiin dong?” kata manja.
“Ala kamu genit juga, beres deh ntar Tante mandiin” jawab Tante Nur sambil bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, akupun mengikutinya dari belakang.

Di kamar mandi, Tante Nur mengguyur seluruh badanku dengan air hangat yang mengucur lewat dari shower. Tangannya trampil sekali menyabuni seluruh bagian tubuh belakangku. Aku yang dalam keadaan telanjang seperti bayi yang sedang dimandikan oleh Tante Nur.

“Sekarang bagian depannya, Rud” perintah Tante Nur.

Ketika aku berbalik menghadap Tante Nur. Sepasang payudara yang besar dan montok itu menggantung indah di dada Tante Nur, kini tepat didepan mukaku. Kedua putingnya yang besar terlihat merah kecoklatan.
Aku tidak bisa menahan nafsu segera kuraih kedua payudara Tante Nur dan kuremas-remas. Tante Nur diam saja dan masih terus menyabuni tubuh bagian depanku. Saat putingnya aku pelintir-pelintir Tante Nur mulai mendesis. Kupeluk tubuh Tante Nur yang montok dan lehernya kuciumi lalu kedua putingnya aku hisap2.

Sementera itu kontolku yang sudah ngaceng kembali menerjang-nerjang bagian memek Tante Nur. Tangan Tante Nur kemudian meraih batang kontolku dan dikocoknya dengan lembut sehingga bantang kontolku jadi semakin besar dan keras.

Aku semakin bernafsu dan ingin segera menyarangkan kontolku ke dalam memek Tante Nur. Aku merendahkan badanku dan Tante Nur kusenderkan ke dinding kamar mandi. Kuarahkan kepala kontolku ke gerbang liang memek Tante Nur lalu pelan2 aku tekan sampai tenggelam seluruhnya ke dalam liang memeknya. Rasanya nikmat sekali dan Tante Nur memelukku erat sekali.

Tante Nur mulai mendesah dan menikmati goyanganku.

“Oooouuhhh... sayaaaangggg... ooooouuhhh... besarnya kontolmu... aaauuuuff... tariiiikhh... aaaaahh... enaaaakkk... teeekaaaan lagiii... aaaahhhh... niiiiikmaaaattttt... uuuuhhhh... pelan sayaaaaanggg... oooouuuffff... enaaaknyaaaa... ooooooohhhhhh... saayaaaang...” tak henti-henti Tante Nur memuji kenikmatan dari ****** besarku yang kini menggesek dinding2 liang memeknya.

Rintihan Tante Nur membuatku semakin bersemangat untuk memompa kontolku semakin cepat. Tante Nur mengangkat kaki kirinya dan dilingkarkan ke pinggangku sehingga aku makin leluasa memompa memek Tante Nur.

“Ooooohhhh... Ruuuudd... kontolmu enak banget Rud, memekku rasanya sesak banget diganjel sama batang kontolmu yang sanagt gede... aduuuuuh... terus Rud enak banget” kata Tante Nur sambil terus merintih.

Aku terus memompa kontolku didalam liang memek Tante Nur sambil mulutku menciumi leher dan telinga Tante Nur. Tante Nur memelukku erat sekali.

“Sayaaaanngggg... ooouuhhhh... terussshhhh... Ruuuuud... aaahhhhh... ennaaakkk... akkuuuu nggaaaaaakk taaaaahaaannn... akkuuuu... keluuuuuaaaarr... keeeeeeeeelllllluuuuuaaarrr... aaahhhhhhh...!!!” jeritan panjang Tante Nur diiringi hempasan keras pangkal pahanya kearah kontolku. Kira-kira semenit kemudian badan Tante Nur ambruk dalam pelukanku. Nafasnya tersenggal-senggal, tubuhnya lemas lunglai. Kontolku yang masih mengeras mengganjal dalam liang memeknya yang banjir.

“Aduh Rud, nikmatnya sayang... aku puas sekali... kamu makin pinter aja mainnya sampai aku lemes banget “ kata Tante Nur. Dia mencapai orgasmenya dan memeknya terasa berkedut-kedut kuat sekali. Gerakanku ditahannya dan dia memelukku erat sekali.

Sementara itu aku sedang tanggung, lalu Tante Nur kuminta membungkuk membelakangiku. Pantatnya yang bahenol sunguh sangat mempesona , batang ****** ku arahkan masuk ke memeknya dari arah belakang. Dan kemudian seluruh batang kontolku sudah tenggelam di dalam liang memek Tante Nur. Aku kembali menggenjot dengan menabrak-nabrakkan pangkal pahaku dengan bongkahan pantat Tante Nur yang tebal.

Pemandangan pantat Tante Nur yang bergetar setiap kali kutabrak membuatku semakin bernafsu. Aku terus mempercepat pompaanku hingga kemaluan kami berbunyi. Tante Nur kelihatannya naik lagi nafsunya, dia memutar-mutar pantatnya sehingga batang kontolku seperti diremas. Aku memperpelan gerakanku menyesuaikan dengan putaran pantat Tante Nur yang sangat mengagumkan.

Aku mulai merasa akan mencapai ejakulasi maka hunjamanku kubenamkan dalam2 dengan gerakan keras.

“Aaagghhhhh... Taaaaannn... aaakuuuu... kelluaaar... enaaakk sekaliii... aaaagghhh...!!!” aku mengerang keenakan. Dalam waktu tidak berapa lama aku menyemprotkan spermaku di dalam liang memek Tante Nur. Kontraksi kontolku nampaknya menambah rangsangan di memek Tante Nur sehingga dia menggerakkan pantatnya tidak beraturan sampai kemudian tangannya menarik badanku rapat ke tubuhnya.

“Uughhh... hhmmm... aku keluar jugaa... aaagghh... enaaakk... uughh” Tante Nur menjerit keras sekali. Memeknya kembali berdenyut dan kali ini lebih lama dari yang pertama tadi.

Tante Nur kembali memujiku, katanya permainan semakin luar biasa, karena dia bisa sampai merasakan kenikmatan dua kali. Yang terakhir kata dia nikmat sekali sampai tubuhnya hampir-hampir tidak kuat berdiri.

Kami mandi bersama dan setelah mengeringkan badan, kami berpakaian. Aku ke ruang tengah, sementara Tante Nur ke dapur menyiapkan makan buat kita berdua. Setelah sekitar setengah jam, Tante Nur mengajakku makan bersama.

Sehabis makan, karena capeknya tubuhku, aku tertidur di sofa. Menjelang tengah hari aku terbangun. Melihat hari sudah siang, aku berpamitan ke Tante Nur untuk pulang ke rumah.

SEJAK peristiwa indah itu, aku dan Tante Nur selalu melampiaskan nafsu birahi kami. Kapan saja aku mau, Tante Nur selalu siap meladeniku. Bagitupun denganku. Kapanpun Tante Nur menginginkanku, akupun selalu siap melayaninya.

http://artikelpernikahan.com/bannerpanas.gif